Langsung ke konten utama

Saksi Bisu Peristiwa Cikini

Bertempat di kawasan menteng, berdiri sebuah bangunan bergaya kolonial di antara gedung berasitektur modern. Di jalan menteng 31, terdapat gedung Joang 45 yang merupakan sebuah museum dengan nama yang sama.

Bangunan yang didirikan sekitar tahun 1920 ini sebelumnya merupakan hotel yang dikelola oleh keluarga LC Schomper. Saat pendudukan jepang, gedung ini digunakan sebagai departemen propaganda jepang sebagai saudara tua Indonesia dengan memberikan program pendidikan politik bagi para pemuda Indonesia.

Buka setiap hari selasa – minggu dari jam 09.00 WIB -16.00 WIB. Sobat Piknik dapat masuk ke dalam bekas hotel Schomper dengan membayar tiket masuk seharga Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 2.000 untuk anak – anak.

Setelah disambut oleh dua patung Proklamator Sobat Piknik dapat melihat relief wajah para saksi detik – detik proklamasi kemerdekaan Indonesia di Jakarta seperti Ahamd Subarjo, Adam Malik, Chaerul Saleh, Sukarni dan Wikana yang dibuat melengkung menyesuaikan ruang bangunan yang tersisa.

Memasuki ruang pamer pertama yang diberi nama ruang pemuda 31. Sobat Piknik akan disuguhkan dengan foto Sang Proklamator ketika muda dan miniatur rumah kediaman Bung Karno di jalan Pegangsaan Timur no 56. Tempat dibacakannya proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Di ruang ini juga terdapat meja kerja dan kursi rotan Bung Hatta, miniatur mobil kepresidenan serta memorabilia tanda kehormatan dokter pribadi Bung Karno yaitu dr H Soeharto.

Memasuki ruang selanjutnya, Sobat Piknik dapat melihat miniatur maket rute gerilya Jendral Sudirman di wilayah Yogyakarta, miniatur kapal USS Renville yang dijadikan tempat perundingan antara Indonesia dengan belanda yang saat itu berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok pada tanggal 2 desember 1947 yang kemudian menghasilkan persetujuan Renville. 

Dan di ruang ini juga Sobat Piknik dapat melihat perlengkapan tentara pelajar (TRIP) seperti senjata rantai, proyektil peluru, baret, tanda kesatuan, tas hingga surat jabatan.

Selain memajang koleksi yang terkait dengan masa kependudukan belanda di Indonesia, di museum Juang 45 ini Sobat Piknik juga dapat menemukan koleksi yang terkait dengan masa kependudukan jepang di akhir masa perang dunia kedua seperti pamflet propaganda jepang di Indonesia yang dikenal dengan semboyan 3A. 

Dan koleksi yang tak kalah menarik adalah seragam serta samurai angkatan darat dan angkatan laut jepang saat bertugas di Indonesia.

Di ruang selanjutnya, Sobat Piknik dapat melihat diorama yang menceritakan peristiwa Rengasdengklok, pidato Bung Karno di lapangan IKADA, pembentukan Angkatan Pemuda Indonesia dengan apel perdananya di halaman depan gedung menteng 31, serta perumusan naskah proklamasi rumah Laksamana Meida.

Di ruang terakhir, Sobat Piknik dapat menyaksikan koleksi pakaian dan atribut perlengkapan dinas Mayjen Dr Moestopo, memorabilia tentara belanda berupa tanda pangkat, helm, sarung pistol, botol air, peti besi dan perlengkapan perang milik tentara pelajar (TRIP) berupa senapan, belati, sangkur, pedang, helm, tanda pangkat, bom futong, bambu runcing, pedang komando dan replika tandu Panglima Sudirman.

Selain koleksi yang ada di bagian dalam museum, Sobat Piknik juga dapat menikmati koleksi yang ada di bagian belakang museum yaitu kereta kuda dan mobil yang pernah dipakai Presiden dan Wakil Presiden pertama.

Ada cerita unik di balik mobil RI 1 pertama berjenis sedan limosin merk Buick buatan Amerika tahun 1939 yang merupakan mobil termewah saat itu. 

Semula mobil ini adalah milik departemen perhubungan jepang di Jakarta. Mobil yang pernah dibawa saat pemindahan ibukota ke Yogyakarta ini didapatkan oleh anggota barisan banteng yang bernama Sudiro dengan cara mendekati supir dinas departemen perhubungan jepang yang saat itu sedang memarkir mobilnya untuk diserahkan dan dibawanya ke rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur yang kemudian dijadikan mobil kepresidenan di awal kemerdekaan.

Jika Mobil RI 1 merupakan milik departemen perhubungan jepang. Mobil RI 2 merupakan milik paman Bung Hatta yang diperuntukan bagi Bung Hatta dalam mobilisasi hingga menjalankan tugas - tugas kenegaraan.

Dan koleksi mobil terakhir adalah mobil yang menjadi saksi bisu peristiwa pemboman Cikini. Sedan hitam merk imperial ini digunakan oleh Bung Karno saat menghadiri bazar sekolah anaknya di Perguruan Cikini (Percik) pada tanggal 30 November 1957.

Pada peristiwa tersebut terjadi peledakan granat sebagai upaya pembunuhan Sang Proklamator. Bung Karno selamat dari upaya pembunuhan namun peristiwa tersebut mengakibatkan 9 orang tewas dan 55 orang terluka termasuk ajudan dan murid Perguruan Cikini.


Hmmm… Gimana Sobat Piknik ? Tertarik untuk mengunjungi Museum Juang 45 untuk mempelajari lebih lanjut ?! Selesai sudah piknik kali ini. Sampai jumpa di piknik selanjutnya...


Pesan moral :
Perjuangan bangsa ini tak sebatas meraih kemerdekaan dari bangsa asing, mempertahankan dan menghadapi ancaman dari bangsa sendiri adalah hal yang harus dihadapi para pendiri bangsa ini agar Negara Indonesia tetap berdiri. Maka sepatutnya kita sebagai generasi penerus terkini harus menghargai dan berkerja keras untuk mewujudkan mimpi para pendiri bangsa agar negeri ini mampu mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Komentar

ARTIKEL PALING BANYAK DIBACA

Berharap Terik di Citorek

Tak terasa sudah lebih dari setahun touring motor bareng Sobat Kantor berlalu. Kalau touring edisi sebelumnya disepakati PP dalam sehari. Maka touring kali ini disepakati untuk minta izin ke istri dan anak masing – masing agar dipebolehkan tidak pulang ke rumah karena  perjalanan ke Citorek harus dilakukan malam hari  demi menyaksikan fenomena negeri di atas awan saat matahari terbit. Touring dimulai hari jumat sore setelah jam pulang kantor. Check point pertama rumah Sobat Kantor yang ada di daerah Sawangan untuk dijamu makan malam . Setelah perut kenyang dan bersenda gurau hingga Jam 21:00. Maka perjalannya diteruskan menyusuri jalan raya Parung - Ciampea untuk menuju che ck point kedua di rumah Sobat Kantor yang ada di daerah Jasinga. Tepat jam 23:00 Travelista dan Sobat Kantor tiba di check point Jasinga untuk rehat sejenak dan ngemil tengah malam. Setelah mandi dan persiapan lainnya, tepat jam 03:00 dini hari, Travelista dan Sobat Kantor memulai perjalanan menuju Citorek ...

Berziarah ke Makam Kakek Pendiri Kesultanan Banjar

Biasanya Travelista menuju Kantor Cabang di Provinsi Kalsel bagian hulu melalui jalan kota Martapura. Tapi karena terjadi kemacetan, Travelista dibawa Personil cabang melintasi kota Martapura via jalan tembus yang membelah perkebunan sawit yang belum terlalu rimbun. Sambil menikmati pemandangan perkebunan sawit, mata Travelista tertuju pada papan petunjuk yang tadi terlewat. Segera Travelista meminta Personil cabang putar balik untuk singgah sejenak di tempat yang ternyata makam Pangeran Sukamara. Area pemakaman cukup luas dan kelihatannya sih, masih banyak yang belum ditempati #jadibingungmaksudkatabelumditempati? Hehehe… Karena udara luar cukup terik, maka segera Travelista menuju cungkup makam Pangeran Sukarama yang di design layaknya sebuah langgar.  Terdapat cukup banyak makam warga yang dikebumikan di area depan dan belakang makam Pangeran Sukarama yang berada di dalam ruang bersama dua makam pangeran yaitu Pangeran Angsana dan Pangeran Jangsana yang tertulis wafat tahun 1322...

Melihat Artefak Sejarah Perminyakan Pulau Tarakan

Travelista lanjutkan estafet piknik di pulau Tarakan. Nah, tujuan piknik selanjutnya adalah ke “ruh” pulau Tarakan yaitu emas hitam atau minyak bumi. Salah satu artefak yang dapat Sobat Piknik temukan adalah tugu Pompa Pertamina.  Tugu ini terletak di bundaran jalan Pattimura,  tidak jauh dari baloy adat Tidung . Pada pompa ini tertulis Thomassen OE Steeg Holland. Kemungkinan pompa ini adalah peninggalan jaman Belanda saat mengeksploitasi minyak dari bumi Tarakan. Udara yang sangat terik Travelista rasakan selama piknik di pulau Tarakan, semerbak aroma bensin sesekali terhirup saat Travelista melewati jalan Sei Sesayap.  Di beberapa sudut jalan terdapat pompa angguk yang nampaknya masih aktif beroperasi. Menurut Travelista, inilah tambang minyak paling sederhana yang pernah Travelista lihat. Seperti biasa, kalau tidak ke kantor Pusat Pemerintahan atau alun – alun, maka   berfoto di Masjid Agung adalah hal wajib bagi Travelista. Kali ini Travelista sempatk...