Langsung ke konten utama

Mengenal Lebih Dekat Muhammad Husni Thamrin

Bagi Sobat Piknik yang sering ikut Car Free Day pasti sudah tidak asing lagi dengan jalan MH Thamrin. Sebuah nama jalan protokol Ibukota yang membentang dari bundaran HI sampai dengan bundaran air mancur di kawasan Monas yang diapit oleh patung kuda Arjuna Wijaya dan patung MH Thamrin.

Hmmm... Jadi penasaran dengan tokoh yang dijadikan nama jalan tersebut !? Siapakah beliau ? Yang konon merupakan Pahlawan Nasional yang berasal dari tanah Betawi.

Mencoba untuk mencari informasi lebih banyak dari referensi internet. MH Thamrin adalah salah satu tokoh penting dalam perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Hmmm... Makin ingin mengenal lebih dekat dengan tokoh yang satu ini !

Let’s go...! Kita susuri jejak Muhammad Husni Thamrin dengan menapaktilasi perjalanan hidup sang diplomat ulung yang pernah Indonesia miliki di sebuah museum yang terletak di gang Kenari 2 kawasan Senen Jakarta Pusat.

Untuk menuju museum ini, Sobat Piknik dapat naik busway rute 5 Ancol – Kampung Melayu, rute 5C Harmoni - PGC, rute 5D Ancol - PGC, rute 5E Ancol – Kampung Rambutan, rute B22 Bekasi – Pasar Baru, turun di halte salemba UI dilanjutkan jalan kaki sekitar 600 meter menyusuri kawasan padat penduduk di gang kenari 2.

Sesampainya halaman museum, Sobat Piknik akan disambut oleh patung Muhammad Husni Thamrin bercat emas. Di balik patung ini terdapat kutipan MH Thamrin yang patut untuk kita teladani dalam melakukan sebuah perjuangan yaitu “memilih djalan jang sesoeai dengan perasaan ra'jat, akan membikin ia bekerdja bersama - sama dengan gembira oentoek kesentaoesaan noesa dan bangsa". #patutditiru.

Dulunya gedung ini merupakan tempat pemotongan hewan dan tempat menimbun buah – buahan dari australia milik Meneer Haas dan dibeli oleh MH Thamrin pada tanggal 12 maret 1927. Gedung ini sering dijadikan tempat pertemuan pergerakan kemerdekaan seperti perumusan konsep sumpah pemuda dan pertemuan - pertemuan penting lainnya.

Gedung ini juga pernah digunakan sebagai perguruan rakyat yang menghadirkan tokoh - tokoh besar seperti Ki Hajar Dewantoro, Dr Sarjito, Haji Agus Salim, Ismail Marzuki, WR Supratman dan lain sebagainya.

Begitu pentingnya peranan gedung milik MH Thamrin ini, maka gedung ini dihibahkan oleh alhi waris MH Thamrin kepada Pemda DKI dan diresmikan menjadi museum MH Thamrin pada tanggal 16 februari 1987 oleh Gubernur DKI Jakarta R Suprapto.

Museum HM Thamrin buka setiap hari selasa sampai minggu dari jam 09.00 – 16.00 WIB. Untuk masuk ke dalam, Sobat Piknik akan dikenakan biaya 5.000 untuk dewasa dan Rp 2.000 untuk anak – anak.

Tepat di depan pintu masuk, Sobat Piknik akan disambut oleh sepasang maneken berbusana adat betawi yang mewakili suku dari MH Thamrin. Di kubikal ini terdapat diorama suasana sebelum kongres rakyat pertama pada tahun 1935 di gedung yang sekarang dijadikan museum MH Thamrin ini.

Beranjak ke sisi kiri museum, Sobat Piknik akan menjumpai meja rias, almari  milik istri MH Thamrin dan radio Philip milik MH Thamrin yang digunakan untuk mendapatkan segala informasi kondisi yang terjadi di dalam dan luar negeri. Sepeda ontel yang digunakan MH Thamrin menjalankan berbagai aktifitas termasuk untuk melihat langsung keadaan rakyat untuk disampaikan dalam sidang gementee raad atau volksraad.

Di sini juga terdapat satu set meja kursi yang biasa dipakai oleh MH Thamrin untuk menjamu tamu yang berkunjung untuk membahas berbagai dinamika di kala itu. Di sini juga terdapat blangkon yang pernah digunakan MH Thamrin pada saat menghadiri pertemuan kongres kedua PPPKI di Surakarta pada tahun 1939, piring keramik sumbangan Deetje Djuabida putri MH Thamrin.

Masih di koridor yang sama, terdapat beberapa foto tokoh betawi yang ikut andil dalam perjuangan kemerdekaan dan tatanan politik nasional seperti Ismail Marzuki sastrawan kelahiran Kwitang, Entong Gendut jagoan Condet, Haji Noer Ali ulama dan pemimpin laskar pejuang Bekasi, Komodor Abdul Rahman Saleh yang namanya diabadikan menjadi bandara kota Malang hingga Imam Syafei atau bang Pi'i pentolan preman Pasar Senen yang diangkat menjadi Menteri keamanan rakyat dalam kabinet Dwikora masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Di samping jajaran foto tokoh betawi tersebut terdapat diorama MH Thamrin ketika berpidato di sidang gementee raad atau Dewan Kota Praja Batavia. Dikisahkan dalam sidang tersebut MH Thamrin mendesak Pemerintah Kota Praja Batavia memperhatikan nasib kaum pribumi dengan program perbaikan kampung dan penyediaan air bersih. Hingga pada akhirnya Pemerintah Kota Praja Batavia membanguan pusat penjernihan air minum Pedjompongan yang merupakan cikal bakal PD PAM Jaya yang kini terbagi menjadi PT Palyja dan PT Aetra.

Di museum MH Thamrin terdapat ruang audio visual yang memajang perangkat kesenian betawi yaitu gambang kromong. Juga terdapat replika teras rumah adat betawi yang dapat Sobat Piknik gunakan sebagai background berfoto.

Terdapat pula diorama saat MH Thamrin terbaring sakit di kediamannya di jalan Sawah Besar pada tanggal 6 januari 1941. Beliau digeledah oleh polisi pemerintah kolonial belanda sekitar pukul 02.30 dini hari untuk mencari dokumen - dokumen penting. Kemudian Beliau wafat setelah 5 hari menjalani tahanan rumah.

Oya Sobat Piknik, gedung ini juga memiliki peranan penting dalam lahirnya konsep lagu kebangsaan Indonesia raya yang selalu diperdengarkan oleh WR Supratman dalam setiap pertemuan yang digelar di gedung ini sebelum diperdengarkan kepada masyarakat luas. Hal tersebut dapat Sobat Piknik lihat dari replika biola WR Supratman yang dipajang di museum ini.

Di museum ini juga terdapat replika kereta jenazah yang dulu digunakan untuk mengantar jenazah MH Thamrin dari kediamannya di Jalan Sawah Besar menuju TPU Karet Bivak pada tanggal 11 januari 1941.

Untuk mengenang jasa - jasa Putra Betawi yang lahir di Sawah Besar ini. Maka pada tanggal 28 juli 1960, melalui Kepres no 175 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno, MH Thamrin diangkat menjadi Pahlawan Nasional.


Selesai sudah upaya untuk mengenal lebih dekat Muhammad Husni Thamrin. Sampai jumpa di piknik selanjutnya...


Pesan moral :
  1. Hal yang patut diteladani dari MH Thamrin adalah jiwa kepemimpinan yang merakyat dan semua dilakukan untuk kepentingan rakyat bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan.
  2. MH Thamrin adalah tokoh pejuang cerdas. Beliau berjuang dengan cara kooperatif dan diplomasi dengan cara menjadi bagian dari anggota gementee raad atau volksraad. Dari dalam Beliau berjuang untuk sebuah kebijakan bagi rakyat yang sedang menunggu di luar gedung sidang.
  3. Museum MH Thamrin yang terletak di tengah pemukiman padat penduduk menyimpan nilai - nilai perjuangan MH Thamrin dan bangsa ini. Tapi sayangnya design dan layout museum saat ini statis dan terlalu sederhana sehingga membuat kesan kurang menarik dikunjungi oleh anak – anak muda jaman sekarang. Semoga pengelola museum dapat mengkaji layout saat ini agar lebih menarik minat anak - anak muda untuk berkunjung ke Museum MH Thamrin tanpa mengurangi ruh perjuangannya di masa lalu. #Ayokemuseum

Komentar

ARTIKEL PALING BANYAK DIBACA

Menyusuri Setiap Sudut Kota Tanjung Selor

Masih penasaran dengan Pujasera yang semalam Travelista kunjungi, pagi harinya Travelista kembali sambangi untuk mencari sarapan. Rupanya sama dengan Kulteka. Tak ada yang berjualan pagi di tempat ini. #memangkotayangunik. Ya sudahlah, sambil nahan perih lambung sedikit, mending mengamati aktifitas warga kota Tanjung Selor di pagi hari. Tepat di depan Pujasera terdapat pelabuhan Kayan I yang merupakan pelabuhan peti kemas berukuran kecil. Barang yang dibawa sebagian besar sembako asal Surabaya.  Memang sih, selama beberapa hari Travelista tinggal di kota ini, tidak melihat lahan pertanian atau sentra produksi sembako. Mungkin hal tersebut yang membuat biaya makan di sini sedikit lebih mahal jika dibanding dengan kota – kota yang pernah Travelista sambangi. Masih sederet dengan Pujasera, terdapat sebuah Klenteng yang namanya Travelista tidak tahu karena tidak ada keterangan dalam aksara latin yang menjelaskan nama klenteng yang merupakan satu – satunya dan terbesar di Tanj

Berkeliling Kota Pangkalan Bun

Kali ini Travelista dapat tugas ke Pangkalan Bun, sebuah sebuah kota yang terletak di Kalimantan Tengah. Pangkalan Bun sendiri merupakan ibukota kabupaten Kotawaringin Barat. Walaupun berstatus sebagai ibukota kabupaten, Pangkalan Bun memiliki bandara dan terhubung dengan penerbangan langsung dari Jakarta. Saat ini terdapat dua maskapai yang melayani rute Jakarta – Pangkalan Bun. Soal fasilitas, layanan dan waktu tempuh, Travelista rasa tidak terlalu jauh berbeda. Hanya jam penerbangan saja yang mungkin menjadi penentu pilihan Sobat Piknik saat ingin berkunjung ke Pangkalan Bun. Setelah melakukan penerbangan sekitar 1 jam 35 menit, akhirnya Travelista mendarat di bandara Iskandar. Salah satu pintu masuk menuju Pangkalan Bun selain pelabuhan Kumai dan terminal bus Natai Suka. Dari bandara Iskandar, Travelista sudah ditunggu Personil cabang untuk berwisata di kota ini. Nggak deh BOSS QU ! KERJA di kota ini. Hehehe… Keluar dari bandara, Sobat Piknik akan disambut oleh

Berziarah ke Makam Sunan Ampel

Mengisi weekend saat tugas di kota Sidoarjo. Kira – kira mau ke mana yah Travelista ? Explore tempat wisata kota Sidoarjo atau kota Surabaya ??? Setelah merenung sekejap, terpilihlah kota Surabaya sebagai tujuan piknik hari ini.  Tujuan utamanya adalah kawasan wisata religi Sunan Ampel. Pikir Travelista, yang dari jauh saja nyempetin berziarah ke makam Wali Songo. Masa, Travelista yang sudah ada di kota tetangga tidak berkeinginan berziarah ke makam Wali Allah tersebut ???   Tujuan sudah ditentukan, tinggal memikirkan bagaimana cara untuk mencapai ke sana dengan cara yang hemat ? Setelah cek tarif ojek online, ternyata jarak dari hotel tepat Travelista menginap ke makam Sunan Ampel lebih dari 25 km. Melebihi batas maksimal jarak tempuh dari ojek online roda dua. Selain jarak, tentu tarif juga jadi pertimbangan Travelista dalam setiap piknik. Hehehe…   Kebetulan sudah hampir seminggu Travelista tinggal di kota lobster. Beberapa kali Travelista lihat ada bus Trans Sidoarjo yang lal