Langsung ke konten utama

Gowes Senja di Banua Sanggam

Waktu sudah menunjukkan jam 16:45 WITA, Datang Personil cabang ke ruang kerja untuk mengajak Travelista gowes di sore hari. “Pak, nanti pulang kerja kalau tidak ada acara. Mau ikutkah dengan teman - teman gowes tipis - tipis keliling kota ?” Kebetulan tidak ada acara juga, sontak Travelista jawab “Wah, boleh tuh !” Saya sedang tidak ada acara.” “Ok, kita siapkan sepeda dulu agar pas pulang kerja kita langsung gowes” Ujar Personil cabang.

Setelah absen jam 17:00 WITA, bergegas Travelista ganti baju dan ambil sepeda. Perlu Sobat Piknik ketahui bahwa waktu sholat Maghrib di Kabupaten Balangan lebih lambat sekitar 30 menit dibanding WIB. Sekitar jam 18:30 WITA. Jadi ada waktu sekitar satu setengah jam gowes senja di Banua Sanggam.

Destinasi pertama adalah Pasar Budaya Racah Mampulang yang terletak di desa Balida. Sebuah destinasi wisata buatan hasil perpaduan kreatifitas pemuda dan aparatur desa yang menggandeng salah satu perusahaan yang beroprasi di kabupaten Balangan dan sekitarnya melalui dana Corporate Social Responsibility atau CSR.

Pasar Budaya Racah Mampulang Balangan
Memasuki pemukinan warga yang nampak tradisional dan aktivitas anak – anak kecil di jalan akses desa merupakan hal yang menarik bagi Travelista di gowes senja ini. Dari jalan kerikil tak beraspal, Sobat Piknik dapat menyusuri jalan yang terbuat dari anyaman bambu sepanjang 350 meter yang terhampar di atas sawah warga.

Suara reyot bambu saat kaki melangkah menjadi irama khas yang mendampingi Trevalista mengitari area Racah Mampulang yang dalam bahasa Banjar berarti hamparan terbuka yang digenangi air. Ya pantas saja sih, sebab destinasi wisata kreatif ini menggunakan sawah warga tanpa merubah fungsinya kerana hanya numpang menancapkan kaki jembatan bambu di atas sawah. Wah… Salut ya Sobat Piknik ?! Biasanya kan jika membuat desnitasi wisata terjadi alih fungsi lahan ya Sobat Piknik ?! Hehehe… 

Tempat Wisata Kabupaten Balangan
Tempat Wisata Kabupaten Balangan
Tempat Wisata Kabupaten Balangan
Dari pasar budaya Racah Mampulang, gowes Travelista teruskan blusukan melintasi jembatan gantung memasuki perkebunan karet milik warga untuk menuju Tugu Monumen Perjuangan yang merupakan landmark bagi Kabupaten Balangan.

Tempat Wisata Kabupaten Balangan
Tempat Wisata Kabupaten Balangan
Tempat Wisata Kabupaten Balangan
Di Tugu Monumen Perjuangan, Sobat  Piknik dapat melihat etos kerja masyarakat Kabupaten Balangan yang ditampilkan pada relief monumen. Selain itu juga terdapat prasati yang menampilkan nama – nama tokoh penggagas terbentuknya Kabupaten Balangan yang sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Landmark Kabupaten Balangan
Taman Balangan
Dari Tugu Monumen Perjuangan, gowes Trevalista teruskan menuju desa Lasung Batu untuk menikmati teduh senja dan keindahan matahari terbenam dihamparan lahan persawahan milik warga. Hmmm… Sebuah kemewahan yang tidak terdapat di kota besar.

Desa Lasung Batu Kabupaten Balangan
Obyek Wisata Desa Lasung Batu Kabupaten Balangan
Desa Lasung Batu Kabupaten Balangan
Menutup rasa syukur gowes senja. Trevelista lengkapi dengan menunaikan kewajiban sholat Maghrib di Masjid Al Akbar yang menjadi landmark religius di jantung kota Paringin yang merupakan ibukota Kabupaten Balangan.

Sejarah Masjid Al Akbar Kabupaten Balangan

Kembali ke artikel sebelumnya : Jelajah Wisata Sejarah di Desa Lampihong...
 
Selesai sudah piknik kali ini. Sampai jumpa di piknik selanjutnya...


Pesan moral :
  1. Perjalanan ke Banua Sanggam meninggalkan tanya apakah kelak buah lokal tetap bisa dinikmati anak cucu kita ? Travelista berdoa agar di setiap daerah memiliki kebun raya untuk melestarikan flora dan buah lokal agar tidak tinggal cerita.
  2. Mountain bike ke air tejun tayak mengajarkan Travelista tentang daya juang yang harus diyakini. Bahwa sebenarnya kita untuk mencapai cita - cita. Hanya saja saat ini kita ragu akan kemampuan diri atau belum maksimal berusaha untuk mencapai cita - cita.

Komentar

ARTIKEL PALING BANYAK DIBACA

Jelajah Wisata Sejarah di Desa Lampihong

Badan masih terasa capek. Namun pagi – pagi Personel cabang sudah ketok – ketok pintu kamar. “Pak, mau ikutkah ? Teman – teman mau gowes ke Lampihong. Rutenya tidak jauh kok. Tidak seperti ke Tayak kemarin !” Aduh… Dalam hati Travelista, “Masih cape banget nih, tapi ga enak kalau nolak. Takut nanti ga diajak lagi kalau Personel cabang ada acara !” Segera Travelista konfirmasi ke Personel yang ngetok pintu kamar. “Yang bener nih ! Jangan – jangan track nya seperti ke Tayak kemarin ?!” Enggak Pak ! Serius ini kita road bike saja Pak ! Ujar Personil cabang. Karena sudah cukup yakin. Akhirnya Travelista setuju untuk ikut gowes ke Lampihong. Photo by : Rahmani Nor Gowes pun dimulai. Tugu gula habang menjadi meeting point Travelista dan Personil cabang kali ini. Setelah semua lengkap, gowes jelajah wisata sejarah menuju jembatan peninggalan belanda.  Jembatan penghubung desa Hilir Pasar dengan desa Simpang Tiga ini dulu dibuat sekitar tahun 1932 - 1933 dengan baja yang didatangkan d...

Rumah Bundar Sisa Peninggalan Perang Dunia Kedua

Masih ada sedikit waktu sebelum jam penerbangan ke Jakarta. Mengarah jalan menuju bandara Juwata, Travelista sempatkan untuk mampir ke museum flora dan fauna atau yang lebih dikenal sebagai rumah bundar yang terletak di jalan Danau Jempang. Letak museum flora dan fauna atau rumah bundar sendiri berada di sebuah komplek perumahan. Sebenarnya rumah ini tidak berbentuk bundar, atap yang terbuat dari seng berbentuk setengah lingkaran. Saat Travelista hitung, rumah bundar di komplek ini tersisa 6 unit. Tetapi 5 di antaranya sudah dimodifikasi dengan bangunan baru. Hanya ada 1 unit rumah bundar dengan penampakan asli dan utuh. Yang kini dijadikan museum flora dan fauna oleh Pemkot Tarakan. Rumah ini dibangun oleh pemerintahan belanda pada tahun 1938 yang merupakan rumah dinas pegawainya. Pada tahun 1945 rumah ini difungsikan tentara australia sebagai pos pemulihan keamanan lingkungan pulau Tarakan yang rusak berat akibat perang. Dan pada tahun 2003 rumah ini dijadikan bangunan cagar...