Badan
masih terasa capek. Namun pagi – pagi Personel cabang sudah ketok – ketok pintu
kamar. “Pak, mau ikutkah ? Teman – teman mau gowes ke Lampihong. Rutenya tidak
jauh kok. Tidak seperti ke Tayak kemarin !” Aduh… Dalam hati Travelista, “Masih
cape banget nih, tapi ga enak kalau nolak. Takut nanti ga diajak lagi kalau
Personel cabang ada acara !” Segera Travelista konfirmasi ke Personel yang
ngetok pintu kamar. “Yang bener nih ! Jangan – jangan track nya seperti ke
Tayak kemarin ?!” Enggak Pak ! Serius ini kita road bike saja Pak ! Ujar
Personil cabang. Karena sudah cukup yakin. Akhirnya Travelista setuju untuk
ikut gowes ke Lampihong.
![]() |
| Photo by : Rahmani Nor |
Gowes
pun dimulai. Tugu gula habang menjadi meeting point Travelista dan Personil
cabang kali ini. Setelah semua lengkap, gowes jelajah wisata sejarah menuju
jembatan peninggalan belanda. Jembatan
penghubung desa Hilir Pasar dengan desa Simpang Tiga ini dulu dibuat sekitar
tahun 1932 - 1933 dengan baja yang didatangkan dari Eropa. Konon pembangunan
jembatan besi tertua di Kabupaten Balangan ini bukan dengan sistem kerja paksa
melainkan dengan menggunakan sistem upah borongan. Walau sudah mengalami
beberapa kali renovasi, jembatan lintasan sejarah Lampihong ini tetap bisa
Sobat Piknik lewati.
![]() |
| Photo by : RilisKalimantan.com |
Lampihong
merupakan sentra produksi gula habang atau gula merah di Kabupaten Balangan.
Sobat Piknik dengan mudah menjumpai pohon hanau atau aren yang merupakan bahan
baku pembuatan gula habang tumbuh di belakang atau pekarangan rumah warga.
Setelah
melintasi jembatan Lampihong, Sobat Piknik dapat melihat satu bangunan rumah
dengan arsitektur bergaya eropa yang merupakan rumah tinggal pengusahan karet
pada zaman kolonial. Nampaknya sih, masih ada penghuninya sehingga masih masih
terawat dengan baik dan terjaga kebersihanya.
![]() |
| Photo by : Infopublik.id |
Kumandang azan menggema, gowes
Trevalista hentikan sejenak untuk sholat Dzuhur di masjid Syuhada yang dibangun
oleh Kyai Martasura sekitar tahun 1930 saat masa perjuangan rakyat Balangan
melawan tentara belanda. Dan namanya diabadikan menjadi stadion mini Martasura
yang terletak di pusat kota.
![]() |
| Photo by : Muhammad Zaini |
Desain
dan ornamen masjid Syuhada masih terjaga keasliannya. Konon tiang kayu Ulin
yang menjadi penopang atap Masjid belum pernah diganti sejak awal masjid
didirikan. Hal ini mengingatkan Travelista dengan Masjid Kasimuddin yang
ada di Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara.
![]() |
| Photo by : Muhammad Zaini |
Setelah
sholat Dzuhur, gowes Travelista teruskan untuk singgah ke rumah Banjar desa
Tarangan yang letaknya persis di depan Masjid Al Itiqomah.
Konon rumah Banjar berbahan
kayu ulin jenis bubungan tinggi dulunya hanya ditinggali oleh kaum bangsawan.
.jpg)
.jpg)
Terdapat
tujuh anak tangga yang untuk memasuki teras rumah. Terlihat dari celah jendela,
ruang tamu dengan perabot tua mengisi ruangan tanpa sekat yang memberi kesan
kuno pada rumah kayu yang sudah dijadikan cagar budaya Kabupaten Balangan.





.jpg)

Komentar
Posting Komentar