Langsung ke konten utama

Anyer is Beautiful Dangerous Place

Tiba - tiba Si buah hati ngajak Travelista main ke pantai.  Pikir Travelista “Ah, paling kita ke Ancol atau ke PIK saja naik Busway”. Tapi pas dipikir – pikir lagi, “Kenapa ga nginep di Anyer sekalian ? Lagi pula pasir pantainya lebih bersih dan air lautnya lebih jernih sehingga membuat kulit Si buah hati tidak gatal ! #MaklumPikiranOrangTua. #AnakSelaluNomorSatu.

Segera Travelista cari rekomendasi moda transportasi umum yang paling memungkinkan untuk backpacker bersama Si buah hati. Dari beberapa alternatif, pilihan Travelista jatuh pada moda kereta. Segera Travelista booking tiket Commuter Line Rangkas Bitung - Krenceng PP. Sebab tiket Commuter Line ini jumlahnya terbatas karena menyesuaikan jadwal keberangkatan kereta serta tarifnya hanya Rp 3.000 per orang sehingga menjadi pertimbangan utama bagi Sobat Piknik untuk menuju ujung barat pulau Jawa.

Perjalanan Travelista mulai dari stasiun Pal Merah menuju stasiun Rangkas Bitung dengan waktu tempuh sekitar 2 jam dengan harga tiket Rp 8000 per orang. Travelista berangkat lebih pagi dari rumah untuk mengejar jadwal keberangkatan Commuter Line Merak yang berangkat jam 09:55 dari stasiun Rangkas Bitung.

Stasiun Pal Merah
Stasiun Pal Merah
Jam 07:47 Travelista tiba di stasiun Rangkas Bitung. Masih ada waktu sekitar 2 jam menunggu keberangkatan Commuter Line menuju stasiun Krenceng. Travelista pun putuskan untuk sarapan terlebih dahulu di sekitar stasiun Rangkas Bitung.

Karena sarapan Travelista wajib nasi, maka pilihanya adalah sarapan di warung nasi Ka Oyo yang dapat Sobat Piknik tempuh dengan berjalan kaki sekitar 140 meter dari pintu utara stasiun Rangkas Bitung. Di warung yang sudah berjualan sejak tahun 1982 ini Travelista pesan menu andalan yaitu gepuk daging kerbau, bihun goreng dan perkedel kentang yang rasanya JUARA !!!.

Warung Nasi Ka Oyo Rangkas Bitung
Warung Nasi Ka Oyo Rangkas Bitung
Tempat Makan Enak Sekitar Stasiun Rangkas Bitung
Setelah selesai sarapan. Travelista kembali berjalan menuju stasiun sekalian beli buah - buahan dan jajanan pasar khas Rangkas Bitung seperti kue Jojorong yang terbuat dari tepung beras, santan kelapa dan gula aren. Rasanya mirip dengan bubur sumsum tapi penyajiannya menggunakan daun pisang.

Travelista juga beli kue Pasung yang terbuat dari tepung beras, tepung sagu, santan dan gula merah yang dibentuk kerucut menggunakan daun pisang. Serta Leumeung atau lemang yang tebuat dari olahan beras ketan putih atau ketan hitam. Hmmm… Travelista rasa cukup cemilan khas Rangkas Bitung berbahan dasar beras ini untuk dinikmati di Commuter Line Merak. Hehehe…

Kue Khas Rangkas Bitung
Jam 09:40 Commuter Line Merak langsir di stasiun Rangkas Bitung. Sobat Piknik langsung berjejal berebut masuk ke dalam gerbong kereta agar dapat tempat duduk yang bisa berdekatan dengan keluarga atau Sobat Piknik lainnya. Sebab tiket Commuter Line Merak tidak menerapkan nomor kursi, sehingga Sobat Piknik harus berebut kursi yang diinginkan. Ternyata yang diperebutkan bukan kursi sekolah negeri atau kursi anggota dewan saja ya Sobat Piknik ?! Hehehe…

Terdapat 7 jadwal keberangkatan kereta Commuter Line Merak - Rangkas Bitung. Tavelista pilih jam keberangkatan dari stasiun Rangkas Bitung 09:55 dan tiba di stasiun Krenceng jam 11:40. Serta jadwal kepulangan jam 12:35 dari stasiun Krenceng dan tiba di stasiun Rangkasbitung jam 14:26 menyesuaikan jam check in dan jam check out hotel.

Commuter Line Rangkas Bitung Merak
Commuter Line Rangkas Bitung Merak
Cara beli tiket Commuter Line Rangkas Bitung Merak
Setelah melewati 7 stasiun yang ditempuh sekitar 1 jam 45 menit. Akhirnya Travelista tiba di stasiun Krenceng. Sebuah stasiun peninggalan perusahaan kereta hindia belanda Staats Spoorwegen yang mulai dioperasikan sejak tanggal 1 Desember 1900 dengan nama awal Stopplaats Rantjamerak yang kemudian diubah menjadi halte Krentjeng yang merupakan percabangan jalur kereta menuju stasiun akhir Merak ke arah utara dan menuju stasiun akhir Anyer Kidul di arah selatan.

Sejarah Stasiun Krenceng
Angkot Stasiun Krenceng
Turun dari kereta Travelista bersama Si buah hati bergegas menaiki angkot berwarna silver jurusan Anyer yang ngetem di depan stasiun Krenceng. Ongkos dari stasiun ke hotel tempat Travelista menginap adalah Rp 15.000 per orang.

Angkot Silver stasiun Krenceng
Setibanya di hotel, Travelista coba untuk early check in. Tapi karena kamar belum siap, maka Travelista putuskan untuk sejenak mengunjungi stasiun Anyer Lor yang letaknya tidak terlalu jauh dari hotel. Kini stasiun Anyer Lor terhimpit oleh rumah warga dan pabrik dengan kondisi bangunan yang mengalami kerusakan cukup parah dan tidak terawat. Hmmm… Sayang banget ya Sobat Piknik !?

Sejarah stasiun Anyer Lor
Photo by : Tri Sulistiowati

Tak lama Travelista mengunjungi stasiun Anyer Lor karena Si buah hati sudah tak sabar untuk bermain pasir di pantai yang berada dalam kawasan hotel tempat Trevlista menginap. Hmmm… Akhirnya ngalamin juga main pasir pantai beneran ya Nak ! Hehehe…

Pantai Anyer
Backpacker ke Pantai Anyer
Hari mulai senja, inilah moment paling syahdu jika Sobat Piknik menginap di dekat pantai. Menikmati panorama matahari terbenam dibalut langit berwarna jingga yang diiringi desir ombak yang menciptakan suasana romantis dan menenangkan bagi Travelista dan Si buah hati.

Sunset di pantai anyer
Backpacker ke pantai anyer
Malam pun tiba, lelah raga menempuh petualangan rasa. Membuat mata terpejam lelap dalam kamar gelap hingga terbangun saat matahari mulai menyingsing seiring Nelayan pulang melaut. 

Selepas sarapan, Travelista kembali naik angkot untuk mengunjungi stasiun Anyer Kidul yang merupakan stasiun kereta api yang lokasinya paling barat di pulau Jawa yang berhenti operasi pada tahun 1981 karena sepinya okupansi. 

Tak beda dengan stasiun Anyer Lor. Kondisi bangunan stasiun Anyer Kidul pun nampak usang dan kurang terawat. Lahan kosong di sisi barat dijadikan lapangan bola voli sedangkan sisi timur sudah berhimpitan dengan rumah warga.

Sejarah Stasiun Anyer Kidul
Photo by :  Rizky Pratama

Tak jauh dari stasiun Anyer Kidul terdapat masjid kuno Cikoneng yang dibangun seiring proses Islamisasi di tanah Banten oleh utusan dari kerajaan Tulang Bawang Lampung pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin yang memerintah kesultanan Banten pada periode tahun 1552 – 1570.

Keunikan masjid kuno Cikoneng yang dapat Sobat Piknik temukan ada pada perpaduan ornamen soko guru dan atap bersusun mewakili gaya khas Jawa tempo dulu namun hiasan siger mewakili gaya khas Lampung.

Sejarah Masjid Kuno Cikoneng Anyer
Keunikan Masjid Kuno Cikoneng Anyer
Photo by : Aditya FM

Dari masjid kuno Cikoneng, perjalanan Travelista teruskan menuju mercusuar yang menjadi titik awal pembangunan Groote Postweg atau jalan Pos Anyer - Panarukan oleh Herman Willem Daendels yang dimulai pada tahun 1825. Sebuah mega proyek jalur transportasi darat terbesar pada masa kolonial.

Mercusuar Anyer dibangun pada tahun 1806 dengan bahan batu bata, namun hancur oleh tsunami letusan gunung Krakatau pada tahun 1883. Dua tahun kemudian ZM Willem III membangun kembali mercusuar dengan memindahkan lokasi yang lebih menjauh dari bibir pantai dengan bahan baja dan masih kokoh berdiri hingga saat ini. Sedangkan pondasi mercusuar lama dijadikan tugu penanda nol kilometer Anyer sebagai pengingat bagaimana jalur laut memiliki peran penting dalam perkembangan maritim Nusantara dan dahsyatnya bencana tsunami yang pernah melanda Anyer.

cara ke mercusuar Anyer
Photo by : Pernah Bobo Sini
Titik Nol Kilometer Anyer
Photo by : Fitriana Nur Aini

Konon bencana tsunami tersebut meluluh lantakan kawasan pantai dan permukiman penduduk. Sehingga muncullah nama desa Anyar yang artinya baru, menggantikan nama desa sebelumnya yaitu desa Sudi Mampir. Dan kini Anyar dilafalkan dengan Anyer.

Waktu semakin siang, bergegas Travelista naik angkot kembali ke hotel untuk check out dan segera ke stasiun Krenceng lalu lanjut ke Jakarta.

Sejarah Stasiun Krenceng





Selesai sudah piknik kali ini. Sampai jumpa di piknik selanjutnya...


Pesan moral :
Anyer is beautiful dangerous place. Tingginya nilai sejarah masa lalu dan keindahan pantai pasir putih berombak tenang selalu mengundang Sobat Piknik untuk sudi mampir ke Anyer. Namun di balik pesonanya, Anyer menyimpan berbagai potensi risiko bencana. Sehingga pengelolaan manajemen risiko di Anyer harus dilakukan secara holistik. Dan kini Anyer telah bertransformasi menjadi desa siaga bencana. Sehingga Sobat Piknik dapat menikmati keindahan pantai Anyer dengan rasa aman dan nyaman. #AyoKeAnyerLagi.


Komentar

ARTIKEL PALING BANYAK DIBACA

Jelajah Wisata Sejarah di Desa Lampihong

Badan masih terasa capek. Namun pagi – pagi Personel cabang sudah ketok – ketok pintu kamar. “Pak, mau ikutkah ? Teman – teman mau gowes ke Lampihong. Rutenya tidak jauh kok. Tidak seperti ke Tayak kemarin !” Aduh… Dalam hati Travelista, “Masih cape banget nih, tapi ga enak kalau nolak. Takut nanti ga diajak lagi kalau Personel cabang ada acara !” Segera Travelista konfirmasi ke Personel yang ngetok pintu kamar. “Yang bener nih ! Jangan – jangan track nya seperti ke Tayak kemarin ?!” Enggak Pak ! Serius ini kita road bike saja Pak ! Ujar Personil cabang. Karena sudah cukup yakin. Akhirnya Travelista setuju untuk ikut gowes ke Lampihong. Photo by : Rahmani Nor Gowes pun dimulai. Tugu gula habang menjadi meeting point Travelista dan Personil cabang kali ini. Setelah semua lengkap, gowes jelajah wisata sejarah menuju jembatan peninggalan belanda.  Jembatan penghubung desa Hilir Pasar dengan desa Simpang Tiga ini dulu dibuat sekitar tahun 1932 - 1933 dengan baja yang didatangkan d...

Mountain Bike di Bukit Tayak

Setelah kemarin sedikit lelah menempuh perjalanan darat sekitar 6 jam. Pagi ini Travelista mengisi waktu dengan berolah raga sepeda MTB. Sebuah olah raga yang sudah menjadi gaya hidup bagi pekerja di Kabupaten yang dikenal dengan aktivitas tambang batubara. Meeting point Travelista dan Personil cabang adalah di Tugu Monumen Perjuangan yang merupakan landmark bagi Kabupaten Balangan selain Tugu Maritam yang berada di komplek pemerintahan Kabupaten yang dibentuk tanggal 8 April 2003. Setelah Personil cabang kumpul semua dan sepeda sudah dinaikkan ke mobil pick up, maka perjalanan dilanjutkan ke daerah Halong yang merupakan dataran tinggi di Kabupaten Balangan. Gowes sepeda dimulai dari Desa Uren yang berada di kaki pegunungan Meratus yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Paser Kalimantan Timur. Menurut Personil cabang, jarak dari Desa Uren menuju air terjun Tayak sekitar 12 kilometer. Biasanya penduduk Desa Uren berjalan kaki atau naik motor Trail untuk bertani atau berladang di are...