Langsung ke konten utama

Perjalanan Menuju Banua Sanggam

Perjalanan dinas kali ini akan mengantarkan Travelista menapaki ke Kabupaten Balangan Kalimantan Selatan. Penerbangan reguler dari Jakarta hanya dapat mengantarkan Travelista hingga Banjarbaru. Masih dibutuhkan sekitar 6 jam perjalanan darat dari Banjarbaru menuju Balangan dengan melewati jalan Trans Kalimantan Selatan.

Pesawat Garuda Indonesia
Bandara Syamsudin Noor
Tiba di bandara Syamsudin Noor, Travelista sudah dijemput oleh Personil Cabang yang telah stand by dari setengah jam lalu. Keluar dari area bandara, tentu harus segera makan siang agar kondisi body tetap fit untuk berdiskusi terkait pekerjaan sepanjang perjalanan. Maklum perjalanan dinas kali ini. Travelista didampingi oleh BOS BESAR. Hehehe…

Travelista makan siang di Rumah Makan Pondok Garuda yang terletak di belakang Museum Lambung Mangkurat. Banyak tersedia makanan khas Banjar yang rasanya JUARA !!!


Tempat makan enak di banjarmasin
Setelah makan siang di Bajarbaru, perjalanan Travelista lanjutkan menuju Kabupaten Balangan yang akan melintasi lima Kabutapen / Kota. Di tengah perjalanan Travelista singgah di Masjid Tua Al Abrar Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan untuk menunaikan sholat Dzuhur.

Masjid Al Abrar Kandangan
Masjid berbahan kayu ulin dibangun pada tahun 1878. Di dalamnya memiliki koleksi bersejarah berupa mushaf Al Quran berukuran jumbo yang ditulis oleh Haji Yuseri Fauzi dan jam matahari yang masih digunakan untuk menentukan waktu salat Dzuhur dan Ashar. Konon orang zaman dulu menentukan waktu salat melalui bayangan matahari yang bisa dipelajari melalui ilmu falak. Hmmm… Menarik ya Sobat Piknik ?!

Sejarah Masjid Tua Al Abrar Kandangan
Jam Matahari Masjid Al Abrar Kandangan
Selesai menunaikan sholat Dzuhur, perjalanan Travelista lanjutkan menuju Kabupaten Balangan. Beberapa kali Trevalista melihat makam atau kuburan ada di depan rumah warga. Hmmm… 

Awalnya kaget juga sih, kenapa warga sini makamnya ada di depan rumah ? Apa nggak serem ya ? Travelista pun penasaran hingga Travelista tanyakan ke Personil cabang yang menjemput Travelista. Ujarnya “memang sudah tradisi orang sini mengembumikan keluarga didekat rumah agar mudah menziarihinya”  Hmmm... Masuk akan juga sih.

Tapi dalam hati Travelista kurang puas kalau alasannya hanya karena agar mudah diziarahi. Travelista pun coba buka google map untuk mengetahui bentang alam daerah yang Travelista lalui. Memang area yang sekitar berupa sawah atau rawa basah, kalau pun ada hutan kemungkinan di bawah tanah terdapat batubara yang kemungkinan akan jadi area tambang. Hmmm… Terjawab sudah rasa ingin tahu Travelista. Hehehe…

Perjalanan hampir memasuki wilayah kabupaten Balangan, Trevalista melihat lapak penjual buah lokal yang sebagian besar yang belum pernah Travelista cicipi. Travelista pun singgah di salah satu untuk mencicipi buah lokal Kalimantan yang konon sudah langka.

Di lapak ini Travelista mencicipi Lahung atau Durian Merah yang rasanya manis dengan sedikit pahit, Pampakin atau Durian Kuning namun daging buahnya berwarna orange. Rasanya tidak semanis durian dan lebih keras serta yang unik buah Pampakin ini tidak memiliki aroma yang menyengat seperti durian.

Kemudian Kapul yang sekilas mirip Duku versi jumbo namun rasanya mirip Manggis. Kulipisan atau Mangga mini yang masih kerabat dengan Mangga Kasturi namun rasanya lebih masam. Ramania atau Gandaria yang ukurannya lebih jumbo dibanding dengan Gandaria yang ada di Jawa barat.Travelista juga membeli buah Binjai kerabat Kemang dengan aroma harum dengan kombinasi rasa manis dan sedikit masam. 

Serta buah Kalangkala yang menurut personil cabang rasanya mirip alpukat. Namun tidak dapat dikonsumsi langsung melainkan harus difermentasi dulu selama beberapa jam agar dagingnya melunak dan siap disantap dengan garam. Hmmm… Jadi penasaran ! 

Komentar

ARTIKEL PALING BANYAK DIBACA

Gowes Senja di Banua Sanggam

Waktu sudah menunjukkan jam 16:45 WITA, Datang Personil cabang ke ruang kerja untuk mengajak Travelista gowes di sore hari. “Pak, nanti pulang kerja kalau tidak ada acara. Mau ikutkah dengan teman - teman gowes tipis - tipis keliling kota ?” Kebetulan tidak ada acara juga, sontak Travelista jawab “Wah, boleh tuh !” Saya sedang tidak ada acara.” “Ok, kita siapkan sepeda dulu agar pas pulang kerja kita langsung gowes” Ujar Personil cabang. Setelah absen jam 17:00 WITA, bergegas Travelista ganti baju dan ambil sepeda. Perlu Sobat Piknik ketahui bahwa waktu sholat Maghrib di Kabupaten Balangan lebih lambat sekitar 30 menit dibanding WIB. Sekitar jam 18:30 WITA. Jadi ada waktu sekitar satu setengah jam gowes senja di Banua Sanggam. Destinasi pertama adalah Pasar Budaya Racah Mampulang yang terletak di desa Balida. Sebuah destinasi wisata buatan hasil perpaduan kreatifitas pemuda dan aparatur desa yang menggandeng salah satu perusahaan yang beroprasi di kabupaten Balangan dan sekitarnya mela...

Jelajah Wisata Sejarah di Desa Lampihong

Badan masih terasa capek. Namun pagi – pagi Personel cabang sudah ketok – ketok pintu kamar. “Pak, mau ikutkah ? Teman – teman mau gowes ke Lampihong. Rutenya tidak jauh kok. Tidak seperti ke Tayak kemarin !” Aduh… Dalam hati Travelista, “Masih cape banget nih, tapi ga enak kalau nolak. Takut nanti ga diajak lagi kalau Personel cabang ada acara !” Segera Travelista konfirmasi ke Personel yang ngetok pintu kamar. “Yang bener nih ! Jangan – jangan track nya seperti ke Tayak kemarin ?!” Enggak Pak ! Serius ini kita road bike saja Pak ! Ujar Personil cabang. Karena sudah cukup yakin. Akhirnya Travelista setuju untuk ikut gowes ke Lampihong. Photo by : Rahmani Nor Gowes pun dimulai. Tugu gula habang menjadi meeting point Travelista dan Personil cabang kali ini. Setelah semua lengkap, gowes jelajah wisata sejarah menuju jembatan peninggalan belanda.  Jembatan penghubung desa Hilir Pasar dengan desa Simpang Tiga ini dulu dibuat sekitar tahun 1932 - 1933 dengan baja yang didatangkan d...

Rumah Bundar Sisa Peninggalan Perang Dunia Kedua

Masih ada sedikit waktu sebelum jam penerbangan ke Jakarta. Mengarah jalan menuju bandara Juwata, Travelista sempatkan untuk mampir ke museum flora dan fauna atau yang lebih dikenal sebagai rumah bundar yang terletak di jalan Danau Jempang. Letak museum flora dan fauna atau rumah bundar sendiri berada di sebuah komplek perumahan. Sebenarnya rumah ini tidak berbentuk bundar, atap yang terbuat dari seng berbentuk setengah lingkaran. Saat Travelista hitung, rumah bundar di komplek ini tersisa 6 unit. Tetapi 5 di antaranya sudah dimodifikasi dengan bangunan baru. Hanya ada 1 unit rumah bundar dengan penampakan asli dan utuh. Yang kini dijadikan museum flora dan fauna oleh Pemkot Tarakan. Rumah ini dibangun oleh pemerintahan belanda pada tahun 1938 yang merupakan rumah dinas pegawainya. Pada tahun 1945 rumah ini difungsikan tentara australia sebagai pos pemulihan keamanan lingkungan pulau Tarakan yang rusak berat akibat perang. Dan pada tahun 2003 rumah ini dijadikan bangunan cagar...